Monthly Archives: January 2018

Penipuan Melalui Media Internet & TPPU ( Tindak Pidana Pencucian Uang )

Subdit Cyber Crime Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya telah melakukan penangkapan terhadap pelaku kasus Penipuan melalui media internet dan atau TPPU (tindak pidana pencucian uang), yang diketahui terjadi pada tanggal 6 -11 November 2017 di Jakarta Barat oleh tersangka berinisial JD dan MJS (DPO).

Adapun Barang bukti yang disita dari dari tersangka JD antara lain sebagai berikut, 4 (empat) buah HP merk NOKIA 105, 2 (dua) buah HP merk Samsung, 1 (satu) buah HP merk Nokia 130, 1 (satu) buah HP merk Nokia 1280, 3 (tiga) buah kertas Kartu perdana Indosat, 2 (dua) buah kertas Kartu perdana Telkomsel dan 2 (buah) buah Simcard.

Pelaku melakukan aksinya dengan membuat akun facebook atas nama Irjen MARTUANI untuk mencari korban dan kemudian pelaku melalui telpon dan whattsapp menawarkan kendaraan untuk pejabat polri.

Atas perbuatannya pelaku dikenakan ;

  • Pasal 28 ayat (1) JO pasal 45 huruf A ayat (1) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 372 KUHP dan/ atau pasal 3, 4, 5 UU RI No.8 Tahun 2010 tentang TPPU

 

Waspada ! Penipuan Melalui Email, Rauk Ratusan Juta !

Polda Metro Jaya khususnya Subdit Cyber Crime terus berupaya untuk melakukan penindakan terhadap kejahatan di dunia maya seperti media sosial. Seperti yang dilakukan beberapa waktu lalu, Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya berhasil menangkap pelaku penipuan menggunakan Email.

Pelaku yang berinisial DL alias GA (42) melakukan penipuan menggunakan media Email, dimana pelaku melancarkan aksinya dengan menyadap Email milik korban.

Kejadian ini bermula saat korban menerima email yang berisi perubahan alamat transfer uang, yang dikirim menggunakan email palsu yang mirip dengan email rekan bisnisnya BESTAR Laboratotry PTE.LTD, dimana Email yang asli adalah bestar_int@bestar.com.tw sedangkan yang mengirim bestar_int@bestar-tw.com. Email tersebut berisi perubahan rekening tujuan untuk transfer.” Dia menggunakan email yang mirip dengan email rekan bisnisnya, secara sekilas benar emailnya ” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya.

Kemudian tanpa melakukan konfirmasi kepihak BESTAR Laboratotry PTE.LTD korban mengirimkan uang sebesar USD 31.331.60,- (tiga puluh satu ribu tiga ratus tiga puluh satu, enam puluh sen Dolar) Atau dalam bentuk rupiah sekitar Rp. 400.000.000,- (empat ratus juta rupiah) kepada tersangka. Untuk menampung uang kejahatan tersebut pelaku menggunakan rekening perusahaan yang sudah bangkrut. Selanjutnya setelah uang ditransfer, pelaku langsung mengambil uang dalam bentuk cash di bank.

Atas tindak pidana yang dilakukan tersangka dikenakan :

  • Pasal 28 ayat (1) Jo Pasal 45 A ayat (1) UU RI No. 19 tahun 2016 tentang ITE,
  • Pasal 378 KUHP Jo Pasal 55 ayat(1) ke (1) KUHP dan atau Pasal 85 UU RI No 3 Tahun 2011 tentang transfer dana dan atau Pasal 5 jo pasal 10 UU RI No. 8 Tahun 2010 tentang TPPU.

Ungkap Sindikat Penipuan Online

 

 

Subdit IV Cyber Crime Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya meringkus wanita berinisial DL alias GA (42). Yang mana modus operandi yang digunakan oleh tersangka adalah penipuan melalui email. Sindikat penipuan ini sudah meraub miliaran rupiah terhadap korbannya.

Kabid Humas Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan. Subdit IV/Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya mengungkap sindikasi Internasional Pelaku Penipuan Online dengan metode Business Email Compromise melibatkan 4 negara (Nigeria, Indonesia, Philipina, Malaysia) Argo Yuwono menjelaskan, pengungkapan kasus diawali dari laporan Steven Leonardi yang tengah melakukan transaksi untuk pembelian vaksin ayam dari Singapura melalui email. Komunikasi awal Steven dengan sebuah perusahaan dimulai pada 1 Februari 2016.

“Kemudian, pada 20 Februari 2016, korban menerima email dari tersangka yang berisikan perubahan no rekening,” ujar Argo di Polda Metro Jaya, Selasa (16/1).

Tersangka, kata Argo, menggunakan email yang serupa dengan email perusahaan. Seolah kasat mata seperti email asli. Isinya adalah perubahan rekening tujuan ke perusahaan.

“Sebelumnya, email resmi perusahaan adalah bestar_int@bestar.com.tw. Sedangkan email yang digunakan oleh tersangka adalah bestar_int@bestar-tw.com,” ujarnya.

Buntutnya, lanjut Argo, pada 29 Februari 2016, tanpa melakukan konfirmasi, Steven langsung mengirim ke rekening yang telah dikirim oleh penipu.  ”

Jumlah yang ditransfer adalah USD 31.331,60 atau sekitar Rp 400.000,000,” katanya.

Dalam melakukan aksinya, tersangka menggunakan sebuah virus yang ada di internet untuk membohongi korban.

“Tersangka menggunakan virus trojan. Seperti namanya, virus ini dilegitimasi oleh sistem, sehingga bisa masuk ke dalam sistem. Terus, secara acak dia mencari email yang sedang melakukan transaksi. Jadi korbannya secara acak,” katanya.

Atas perbuatannya, pelaku terancam pasal berlapis. Mulai dari Undang-Undang ITE hingga Tindak Pidana Pencucian Uang.

“Pelaku terancam pidana kurungan antara lima sampai 20 tahun penjara,” pungkasnya. (np)

 

Waspada! Penipuan Toko Online!

Semakin majunya media sosial menimbulkan pro dan kontra, dimana mempermudah dalam berkomunikasi, saling bersilaturahmi, dan juga memperluas pengetahuan kita. Namun kemajuan ini di iringi dimanfaatkan oleh segelintir orang dalam mencari nafkah di dalam media sosial, atau lebih di kenal sebagai toko online. Maka dari itu masyarakat haruslah berhati – hati dalam membeli barang di dalam toko online, karena tidak semua toko online benar adanya, banyak juga yang bermodus toko online tapi nyatanya hanyalah di jaadikan kedok dalam penipuan yang berujung kerugian kepada konsumen.

Admin hari ini mendapatkan laporan tentang toko online yang menjual Jam Tangan bermerk terkenal yang di ketahui ternyata didalamnya hanyalak kedok untuk menipu orang lain, berikut data yang admin dapatkan :

Toko tersebut bernama Wons Store

Nomor HP Pelaku : 085225885999

Pelaku Menggunakan Rekening Bank BRI : 5025-0101-0694-537

Link Toko Online Pelaku : https://www.facebook.com/SURYARATNA99/

 

Pesan Admin, janganlah langsung percaya dengan barang yang di jual murah, jangan sampai kita sebagai konsumen menjadi korban penipuan yang tentunya akan merugi. Bijaklah dalam bersosial media, dan selalu ingat :

“Saring Sebelum Share”